Header Ads

Pekan Batik Pekalongan 2017

Menilik Batik di Era Masa Kini


Untuk lebih mengapresiasi apa yang kita miliki saat ini terkadang kita perlu melongok ke masa lalu. Dalam konteks batik, ternyata banyak hal mengejutkan yang dapat disingkap dari tiap detail rancangannya dan itulah yang disampaikan oleh ilmuwan teori kompleksitas, Hokky Situngkir dari Surya University, dalam talkshow bertajuk “Batik di Era Masa Kini” yang bertempat di Museum Batik Pekalongan pada Jumat malam (07/10)

“Tanpa disadari oleh para pembatik ternyata terkandung suatu pola geometri yang kita sebut geometri fraktal [atau cara alam ber-‘matematika’] di balik tiap pola batik,” ujar pendiri Bandung Fe Institute itu. “Dari pendataan secara digital sekitar 7000 motif batik dari seluruh Indonesia kami melakukan penggambaran motif tersebut secara komputasional dan kami menemukan kode-kode yang mengikuti prinsip geometri fraktal tersebut.”

Rahardi Ramelan, mantan Menteri Industri dan Perdagangan dan Ketua Pakar Yayasan Batik Indonesia, yang malam itu ikut hadir sebagai pembicara, tampak senang mendengar informasi tentang inventarisasi motif batik yang digarap oleh Hokky (yang dapat Anda cek di www.budaya-indonesia.org), karena ia merasa aspek tersebut cenderung diabaikan oleh pihak pemerintahan.

“Kita sangat perlu melakukan yang namanya inventarisasi tradisi ini,” kata Pak Rahardi. “Kita harus ingat kalau apa yang diberikan oleh UNESCO terhadap batik itu adalah pengakuan, belum perlindungan. Tapi masalahnya sekarang pengetahuan masyarakat Indonesia tentang batik mendapatkan pengakuan secara internasional sendiri masih kurang.”

Seiring dengan pergantian zaman batik juga diharapkan bisa beradaptasi (“Saya tadi jalan-jalan ke toko-toko batik sekitar Pekalongan dan saya kaget menemukan pakaian batik yang ada gambar Hello Kitty-nya!” seloroh Pak Rahardi), namun pada intinya semua pembicara sepakat kalau hanya ada tiga jenis batik: batik tulis, batik cap, dan batik kombinasi. “Secara hukum memang yang diakui oleh pemerintah adalah ketiga jenis batik tersebut, namun boleh saja apabila batik tipe printing tetap diperdagangkan asalkan para penjualnya jujur kepada konsumen kalau apa yang ia jual adalah batik tekstil.”

Desainer asal Pekalongan, Eko Wahyu Prabowo, mengatakan meskipun generasi muda saat ini mulai aware akan batik, apalagi sekarang di era digital di mana para desainer dan pengusaha bisa mempromosikan karya mereka secara online, tapi memang tetap kelemahannya adalah kerancuan antara batik asli dan “batik tiruan”. “Dan memang tantangannya adalah kalau misalnya harga batik mahal maka harga baju yang kita jual pun jadi ikut mahal,” ungkap Eko, yang pada akhirnya membuat batik printing lebih menarik lantaran dapat menekan harga. “Tapi sekarang memang yang terpenting adalah menimbulkan rasa cinta pada batik terlebih dahulu.”

Melengkapi acara adalah kehadiran Muhammad Amin, Kepala Sub Direktorat Edukasi Ekonomi Kreatif untuk Publik Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), yang menguraikan rencana kerja Bekraf untuk menggairahkan perekonomian kreatif lokal, dan pada kesempatan tersebut ia juga mengajak Putra dan Putri Batik Nusantara 2016—Kevin Leneria dari Jawa Barat dan Hendita Khairina dari Jawa Timur—yang memaparkan rangkaian program mereka seperti Gebyar Batik Muda Nusantara yang memiliki misi untuk mempromosikan warisan budaya batik dalam konsep kontemporer atau Batik Attack yang menggaet anak-anak muda untuk belajar membuat batik.

Langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah maupun instansi swasta tak dimungkiri memang telah berjalan ke arah yang positif, namun tetap yang perlu diperhatikan adalah rasa kepemilikan yang kolektif dari seluruh populasi Tanah Air. “Kita mesti melihat batik sebagai komoditas dulu,” imbuh Hokky yang pernah menerbitkan buku berjudul Fisika Batik. “Sekarang saja masih ada perdebatan antar daerah tentang kepemilikan motif batik Mega Mendung, dan hal ini terjadi karena tidak ada pendataan. Batik itu adalah way of life, ada cerita di baliknya, ada unsur geometri yang dapat kita telusuri, maka sangat disayangkan kalau Anda mengenakan batik tanpa Anda tahu cerita dan filosofinya.”


1 komentar:

  1. Paling suka dengan pemaparan dari bang Hokky yang melihat batik dari sudut pandang ilmu geometri. Begitu detail dan tak terduga. Really appreciate this guy :)

    BalasHapus