Header Ads

Pekan Batik Pekalongan 2017

Mengenali dan Mengapresiasi Batik Sebagai Proses


Sebagian besar warga Indonesia mungkin tidak menyadari kata “batik” sebenarnya bukan mengacu kepada motif yang tertera pada sehelai kain, melainkan proses yang dilalui untuk menciptakannya. “Definisi ‘batik’ yang benar adalah proses perintang warna dengan lilin panas dan menggunakan canting,” ungkap Romi Oktabirawa, salah satu pengusaha batik ternama asal kota Pekalongan. “Dan UNESCO sendiri memang mengidentifikasi batik sebagai proses.”

Beragam topik terkait batik didiskusikan pada Seminar Nasional bertajuk “Melindungi dan Mengokohkan Batik di Pentas Dunia” yang berlangsung di kantor Pemkot Pekalongan pada Kamis pagi ini (06/10). Acara tersebut merupakan bagian dari Pekan Batik Nusantara 2016 dan juga melibatkan Tumbu Astiani Ramelan dari Yayasan Batik Indonesia (YBI); Hamdan sebagai Asisten Deputi Pengembangan Ekonomi Kreatif; dan Ahmad Zabadi sebagai Direktur SMESCO Indonesia. 

Peningkatan apresiasi terhadap—dan pemakaian—batik “asli” (seperti batik tulis, cap, dan kombinasi antara keduanya) jadi perhatian utama para pembicara, terutama di level para artisan. “Kita juga mesti memikirkan kesejahteraan para pembatik ini karena yang terjadi sekarang hampir tidak ada regenerasi,” imbuh Romi. “Batik itu kan merupakan suatu art collective, yang berarti dia melibatkan banyak orang untuk membuatnya termasuk tukang cap hingga tukang yang bikin canting.”

Sementara itu Ibu Tumbu lebih fokus pada menaikkan awareness tentang batik kepada generasi muda. “Kita mesti memotivasi anak-anak muda untuk mau memakai batik,” ujarnya, “dan salah satu caranya adalah bekerja sama dengan desainer fashion untuk menciptakan gaya yang sesuai dengan mereka, serta menciptakan motif-motif baru dengan warna-warna pastel misalnya.” YBI juga kini tengah mempersiapkan pilot project untuk memasukkan kurikulum tentang batik di semua sekolah tingkat SMP dan membangun museum batik pertama di Jakarta yang diharapkan dapat tuntas sekitar tahun 2018/9. 

Dari sisi branding, Dirut LLP-KUKM Ahmad Zabadi mengatakan SMESCO Indonesia—yang mengincar audiens “women, youth, netizen”—siap untuk membantu para pelaku industri kreatif untuk memperkenalkan produk-produk mereka ke khalayak lebih luas, apalagi baru-baru ini mereka baru saja menjalin kerja sama dengan Lion Air di mana mereka menaruh katalog yang memamerkan beragam produk lokal di tiap pesawat dan memberikan potongan harga khusus bagi pengiriman barang. “Kami siap membantu mempromosikan dan menfasilitasi produk-produk UKM bahkan hingga ke luar negeri,” kata pak Ahmad. 

Di awal acara Walikota Pekalongan, Achmad Alf Arslan, juga mengatakan ia siap memfasilitasi para pemilik UKM sehingga dapat ikut bersaing di era Ekonomi ASEAN dan dunia digital. “Warga kota Pekalongan itu ada sekitar tiga ratus ribuan dan 70 persen di antaranya adalah pengusaha yang bergerak di bidang kerajinan tangan dan home industry. Karya mereka berkontribusi terhadap pengembangan perekonomian kreatif lokal dan untuk ke depannya kami ingin mereka bisa lebih mandiri dan sejahtera.”

Romi Oktabirawa mengatakan ia ingin bisa segera mewujudkan rencana untuk memasang hologram pada batik sebagai jaminan bagi masyarakat akan keaslian batik. “Kami ingin batik itu memiliki added value,” ungkap Ketua Paguyuban Batik Pekalongan ini. “Batik itu sebenarnya priceless lho karena harganya bisa berbeda-beda tergantung dari cerita serta visualisasi spiritual para pembuatnya. Saya ingin batik itu tetap jaya lantaran setiap helainya mengandung beragam budaya.”

Tidak ada komentar