Header Ads

Pekan Batik Pekalongan 2017

Memberdayakan Kekayaan Alam untuk Menciptakan Batik yang Ramah Lingkungan


Kepedulian akan pembuatan batik yang ramah lingkungan jadi fokus beberapa partisipan Pekan Batik Nusantara 2016 yang saat ini tengah berlangsung di kota Pekalongan, salah satunya adalah bapak Supardi. Pemilik Batik Bagus ini sudah lama mendalami teknik pewarnaan kain batik yang menggunakan pewarna alami.

“Kita memang sudah semestinya bergerak ke arah memakai bahan pewarna yang tidak mencemarkan lingkungan,” ujar Supardi. “Apalagi sebenarnya kita memiliki kebun banyak dan jenis-jenis tanamannya kebanyakan dibudidayakan, termasuk di Pekalongan.”

Ia menjelaskan kalau pohon mahoni bisa menghasilkan tiga macam warna cokelat (merah tua, merah muda, dan pink), sementara dari tanaman Indigo ia bisa menciptakan warna biru, dan jalawe untuk warna kuning. “Yang pasti saya tidak pernah mengalami kesulitan soal mendapatkan sumber warna alami.”

Masalahnya sekarang adalah memberdayakan para pembatik lokal untuk menguasai ilmu pembuatannya, dan langkah pertama yang mesti dilakukan adalah memahami sifat-sifat alam. “Karakter alam itu berbeda-beda, entah itu dari daun yang muda dan yang tua, dan dengan mengetahuinya kita akan mendapatkan sumber warna yang sesuai dengan alam.”

Pak Supardi telah belajar proses membatik sejak kecil dari orangtuanya yang juga pedagang batik, tapi soal ilmu mengekstrak warna dari kekayaan alam justru ia kuasai secara otodidak. “Waktu saya berumur 10 tahun orangtua saya sulit mendapatkan pewarna kimia untuk mewarnai layang-layang, lantas saya pun iseng-iseng bereksperimen dengan tetumbuhan dekat rumah untuk mendapatkan warna merah yang saya inginkan.”

Pria yang sudah tiga kali terlibat dalam Pekan Batik Nusantara ini berharap untuk ke depannya pihak pemerintah bisa terus memotivasi para pembatik generasi berikutnya untuk belajar membuat cairan pewarna alam, dan kepada para konsumen ia ingin mereka juga bisa membedakan antara batik berwarna sintetis dan alami, apalagi batik seperti ini cenderung lebih tahan lama alias tidak gampang luntur.

Lantas bagaimana membedakannya? “Intinya batik yang menggunakan pewarna alami itu memiliki warna dan tekstur yang lebih soft, nggak akan menimbulkan reaksi alergi, dan kalau Anda cium menebarkan aroma seperti jamu atau herbal.”

Sementara itu ia jelas tetap mendukung program pemkot terkait promosi batik via acara seperti Pekan Batik Nusantara. “Pameran seperti ini tentu dapat membantu memfungsikan batik-batik Pekalongan dan agar dikenal oleh massa yang lebih luas,” pungkasnya.

Bila Anda tertarik dengan batik ramah lingkungan ini langsung saja kunjungi standnya di Pekan Batik Nusantara atau http://facebook.com/pekanbatik http://twitter.com/pekan_batik atau http://instagram.com/pekanbatik

Tidak ada komentar